Saham HSC Segera Efektif Dikeluarkan dari Perhitungan IHSG

Saham HSC Segera Efektif Dikeluarkan dari Perhitungan IHSG
Bacakan Artikel

Kalcernomics.com - Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengeluarkan sejumlah saham yang termasuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berlaku efektif pada 2 November 2026. 

Dalam pengumuman resmi Nomor Peng-00201/BEI.POP/10-2026 tertanggal 21 Oktober 2026, BEI menegaskan kriteria baru mengenai saham HSC memperluas pengecualian yang sebelumnya hanya berlaku untuk saham Papan Akselerasi, dan berlaku mulai 2 November 2026.

HSC adalah kondisi ketika kepemilikan saham terkonsentrasi pada segelintir pihak sehingga free float atau saham yang beredar di publik sangat tipis. Kondisi ini membuat harga mudah digerakkan transaksi kecil dan dinilai kurang mencerminkan kondisi pasar yang  sebenarnya.

BEI menegaskan, label saham HSC bukan delisting ataupun menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal.

"Kami akan mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan. Jadi, saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan, tetapi tidak diperhitungkan dalam IHSG," jelas Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, dikutip Jumat (23/10/2026).

Sebelumnya BEI mengungkapkan terdapat 80 saham yang termasuk dalam kategori saham HSC. Sebagian besar dari saham-saham tersebut termasuk dalam grup konglomerasi di sejumlah perusahaan tercatat atau emiten.

Data kompilasi BEI per 1 Oktober 2026, kepemilikan saham dalam kategori HSC ini menunjukkan tingkat konsentrasi di atas 93 persen, antara lain:

Sinar Mas Group
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR) 99,58%, PT MSIG Life Insurance (LIFE) 99,21%, PT Golden Energy Mines (GEMS) 99,24%, PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 95,76%.

Salim Group:
PT Indoritel Makmur Internasional (DNET) 98,06%, PT DCI Indonesia (DCII) 99,69% dengan kapitalisasi Rp445,52 triliun, PT Bank Ina Perdana (BINA) 94,79%.

Grup Lain:
PT Barito Renewables Energy (BREN) milik Prajogo Pangestu 97,31% dengan kapitalisasi Rp245,50 triliun, PT Maha Properti Indonesia (MPRO) Mayapada Group 99,99%, PT Multipolar Technology (MLPT) Lippo Group 99,42%, PT Global Digital Niaga (BELI) Grup Djarum 93,83%, PT Pradiksi Gunatama (PGUN) Haji Isam 99,95%, hingga PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Jusuf Hamka 96,64%.