Kalcernomics Versi penuh
market mood

Pasar Cermati Transisi Menkeu, Investor Dimbau Lebih Selektif Pilih Saham

Oleh Himawan 15 Sep 2026 13:55 3 menit baca

Kalcernomics.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan Indonesia sedang memasuki fase yang menuntut para investor untuk semakin selektif

. Hal ini didorong oleh adanya perubahan kebijakan di tingkat domestik serta dinamika ekonomi global yang terus berkembang
.

Pergantian posisi Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi salah satu sorotan utama para pelaku pasar

. Pasar saat ini tengah mencermati arah kebijakan fiskal serta tingkat kredibilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke depan
.

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa penunjukan Suahasil Nazara memberikan sinyal positif bagi pasar pasar

. Latar belakang Suahasil di bidang kebijakan fiskal dan rekam jejak pengalamannya di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi pertimbangan utama respons positif tersebut
.

"Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal," ujar Rully di Jakarta, Selasa (15/9/2026)

.

Rully menambahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi lebih dari 2% secara intraday sebelum akhirnya ditutup relatif datar di level 6.535

. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal mendatang
.

Dari sisi global, Rully memproyeksikan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026

. Menurutnya, langkah The Fed tersebut sebagian besar sudah diantisipasi (priced in) oleh pasar
. Oleh karena itu, perhatian investor domestik akan lebih tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah yang berpengaruh pada ruang kebijakan Bank Indonesia
.

Mengingat IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18% sejak awal paruh kedua 2026, kenaikan Indeks selanjutnya dinilai membutuhkan dukungan realisasi kinerja keuangan (earnings delivery) emiten serta aliran modal asing (foreign flows) yang lebih luas

. Saat ini, arus dana asing masih berfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), khususnya sektor perbankan dan komoditas
.

Dampak Kebijakan Sektor Komoditas

Pada kesempatan yang sama, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, menyoroti dinamika di sektor komoditas

. Menurut Fauzan, peluang investasi komoditas sangat dipengaruhi oleh dampak spesifik dari kebijakan pemerintah terkait produksi, penetapan harga (pricing), arus ekspor, dan penerimaan negara
.

Fauzan menilai pelonggaran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tidak secara otomatis menguntungkan seluruh industri, melainkan berdampak variatif (dispersion event) pada masing-masing emiten

. Sementara di sektor nikel, keterbatasan pasokan bijih (ore) memperkuat posisi tawar perusahaan tambang, namun berisiko menekan margin perusahaan pengolahan (converter)
.

Terkait rencana pembentukan Bursa Komoditas (Commodity Exchange) yang ditargetkan beroperasi pada 1 Januari 2027, Fauzan menilai hal tersebut dapat memperkuat proses penemuan harga (price discovery) di dalam negeri

. Kendati demikian, efektivitasnya dalam meningkatkan kekuatan penentuan harga (pricing power) Indonesia tetap bergantung pada tingkat likuiditas bursa dan adopsi pelaku pasar
.

"Tidak semua saham komoditas akan bergerak dengan arah yang sama meskipun harga komoditasnya naik. Investor perlu melihat posisi dan fundamental masing-masing emiten," pungkas Fauzan

.

Topik terkait
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia pergantian kemenkeu kemenkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa Suahasil Nazara prediksi saham pasar modal bursa