IHSG Berpotensi Melemah, BNI Sekuritas Soroti Dampak Usulan MSCI

IHSG Berpotensi Melemah, BNI Sekuritas Soroti Dampak Usulan MSCI
IHSG Berpotensi Melemah, BNI Sekuritas Soroti Dampak Usulan MSCI
Bacakan Artikel

Kalcernomics.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan setelah terkoreksi tajam menyusul usulan MSCI terkait penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market. BNI Sekuritas memperkirakan tekanan pasar masih berlanjut dan menyarankan investor mencermati saham-saham dengan kepemilikan asing tinggi.

Dalam laporan BNI Sekuritas Retail Report edisi 19 Oktober 2026, IHSG pada perdagangan sebelumnya disebut turun 11,6%, disertai aksi jual bersih investor asing sekitar Rp3,4 triliun.

Saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

BNI Sekuritas menilai potensi dampak dari usulan perubahan klasifikasi MSCI masih dapat menekan pergerakan IHSG. Dalam analisis teknikalnya, perusahaan sekuritas tersebut menetapkan area support IHSG pada level 4.900-5.000, sedangkan area resistance berada di level 5.200-5.250.

Tekanan di pasar saham Indonesia terjadi ketika sejumlah bursa Asia lainnya mengalami penguatan pada Jumat (16/10). Indeks Nikkei Jepang naik 1,39% dan Topix menguat 1,67%. Di Korea Selatan, indeks KOSPI meningkat 2,05%, sedangkan KOSDAQ melonjak 4,5%.

Indeks Taiex Taiwan menguat 0,3%, Hang Seng Hong Kong naik 0,5%, dan ASX 200 Australia bertambah 1%. Penguatan tersebut terjadi setelah tekanan jual saham teknologi mereda.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Jumat (16/10). Indeks S&P 500 turun 1,22%, Nasdaq terkoreksi 2,19%, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,55%.

Tekanan di Wall Street terutama terlihat pada saham-saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saham CoreWeave anjlok 12%, sedangkan Broadcom turun 3,6%. Investor mencermati risiko pembiayaan perusahaan infrastruktur AI yang memiliki beban utang besar, terutama di tengah kekhawatiran mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan untuk memenuhi kewajibannya.

Kenaikan harga minyak mentah lebih dari 3% pada Jumat juga menjadi perhatian investor karena kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Di tengah volatilitas pasar, BNI Sekuritas memasukkan enam saham dalam ide perdagangan hariannya, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Untuk TINS, BNI Sekuritas menetapkan strategi buy on weakness dengan area beli Rp3.310-Rp3.340, batas cut loss di bawah Rp3.300, dan target harga dekat Rp3.500-Rp3.600.

Pada saham NCKL, area beli yang disarankan berada di Rp640-Rp650, dengan cut loss di bawah Rp640 dan target Rp700-Rp730. Sementara itu, INCO memiliki area beli Rp3.200-Rp3.250, cut loss di bawah Rp3.200, dan target Rp3.500-Rp3.700.

Untuk AADI, area beli berada di Rp9.200-Rp9.375, dengan cut loss di bawah Rp9.200 dan target Rp10.000-Rp10.450. Pada CPIN, area beli yang ditetapkan sebesar Rp2.400-Rp2.430, cut loss di bawah Rp2.380, dan target Rp2.640-Rp2.720.

Adapun untuk TAPG, BNI Sekuritas menetapkan area beli Rp1.680-Rp1.700, cut loss di bawah Rp1.640, dan target Rp1.800-Rp1.840.

Laporan tersebut disusun oleh Fanny Suherman, CFP®, selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas. Rekomendasi dan level teknikal tersebut merupakan analisis untuk perdagangan harian, sehingga investor tetap perlu mempertimbangkan risiko dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.