Dari FOMO ke Investasi, Cara Baru Anak Muda Menjaga Keuangan
Kalcernomics.com - Tren pengelolaan keuangan di kalangan anak muda mulai menunjukkan perubahan. Jika sebelumnya media sosial banyak dipenuhi unggahan tentang barang mewah atau liburan ke luar negeri, kini semakin banyak pekerja muda dan mahasiswa yang membagikan target dana darurat, saldo tabungan, hingga alasan menolak ajakan nongkrong demi menjaga kondisi keuangan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai loud budgeting dan soft saving. Kedua istilah ini semakin populer karena menawarkan pendekatan yang lebih realistis dalam menghadapi biaya hidup yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi. Anak muda tetap ingin menikmati kehidupan saat ini, tetapi di saat yang sama mulai memikirkan kebutuhan finansial jangka panjang.
Plt. Direktur Utama PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), Danica Adhitama, mengatakan loud budgeting turut mengubah cara generasi muda membicarakan uang. Topik keuangan yang sebelumnya cenderung dianggap tabu kini mulai menjadi pembicaraan yang lebih terbuka dan wajar.
Menurut Danica, keberanian menyampaikan tujuan finansial juga dapat menciptakan dorongan sosial. Ketika seseorang terbuka mengenai target keuangannya, seperti menabung untuk dana darurat atau investasi, konsistensi untuk menyisihkan uang dapat meningkat. Cara tersebut juga membantu mengurangi tekanan Fear of Missing Out (FOMO) yang kerap mendorong seseorang berbelanja di luar kemampuan.
Di sisi lain, soft saving menawarkan pendekatan menabung yang lebih fleksibel. Danica menjelaskan, konsep ini berbeda dengan gaya menabung agresif seperti gerakan Financial Independence, Retire Early (FIRE) yang umumnya menetapkan target tabungan secara ketat untuk mencapai kebebasan finansial dan pensiun lebih dini. Dalam soft saving, seseorang tetap menabung sesuai kemampuan sambil menyediakan ruang untuk kebutuhan dan kesenangan pribadi.
"Jika loud budgeting soal keberanian bicara, soft saving soal fleksibilitas bertindak. Soft saving bukan berarti berhenti menabung, melainkan mengubah cara pandang bahwa menabung tidak harus kaku, menyakitkan, atau membuat stres," ujar Danica.
Kedua kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat saling melengkapi. Loud budgeting membantu seseorang lebih berani menetapkan batas terhadap pengeluaran, sementara soft saving memberikan fleksibilitas agar proses mencapai tujuan finansial tidak terasa terlalu membebani secara emosional.
Pertumbuhan tren ini juga tidak terlepas dari tekanan biaya hidup. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya tempat tinggal, hingga cicilan membuat sebagian anak muda harus lebih cermat mengatur pendapatan. Di saat yang sama, sebagian generasi muda mulai mempertanyakan pola perencanaan keuangan tradisional yang terlalu berorientasi pada target jangka panjang dan memilih strategi yang lebih adaptif.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 89,96%, sedangkan tingkat literasinya berada di angka 73,22%. Kondisi tersebut menunjukkan akses anak muda terhadap produk dan layanan keuangan sudah cukup tinggi, meski pemahaman dalam mengelola produk keuangan masih perlu diperkuat.
Kemajuan teknologi finansial turut membuka akses yang lebih luas terhadap investasi. Berbagai produk investasi kini dapat diakses melalui aplikasi dengan proses yang relatif sederhana dan modal yang lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.
Menurut Danica, reksa dana menjadi salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan sebagai pintu masuk bagi investor pemula. Instrumen ini memungkinkan investasi dengan nominal terjangkau dan dikelola oleh manajer investasi profesional sehingga investor tidak harus memantau pergerakan pasar setiap hari. Reksa dana juga memiliki karakteristik yang relatif fleksibel dan likuid.
Pada akhirnya, loud budgeting dan soft saving tidak sekadar menjadi tren di media sosial. Jika dibarengi dengan kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin dan investasi yang dilakukan secara konsisten sesuai profil risiko, kedua pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya anak muda membangun fondasi finansial untuk masa depan.