BI: NPI Kuartal II 2026 Masih Terjaga Ditengah ketidakpastian Global
Kalcernomics.com - Bank Indonesia (BI) mengumumkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026, mengalami defisit 0,9 miliar dolar AS dibandingkan dengan defisit pada triwulan I 2026 sebesar 9,1 miliar dolar AS.
Selain itu transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi yang didorong oleh kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga.
Direktur Komunikasi BI, Ramdan Denny, menyampaikan bahwa kenaikan defisit ini disebabkan kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas.
"Transaksi berjalan mencatat adanya defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer," katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurut Ramdan Denny, neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Disamping itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I 2026.
Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 12,5 miliar dolar AS (3,3 persen dari PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen dari PDB)," imbuhnya lagi.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI.
Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.
Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Selain itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.
Di lihat dari perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II 2026, setelah pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar 4,8 miliar dolar AS.
"Ke depan, prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal," ujarnya.
Ramdan Denny juga menambahkan, defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.
Ramdan Denny juga menegaskan bahwa sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.