Volatilitas Pasar Menanti Hasil RDG BI
Kalcernomics.com - Pasar keuangan bergerak volatile pada pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat saat pembukaan perdagangan, Rabu (23/9/2026) di level 6.297,95, naik 20,91 poin, atau 0,33% dari level sebelumnya.
Penguatan tersebut diikuti nilai kurs Rupiah yang berada di posisi Rp 17.857 per dolar, menguat 27 poin atau 0,15%. Adapun emas Antam berada di harga Rp 2.630.000, naik Rp3.000 dari hari perdagangan sebelumnya, dengan harga buyback Rp 2.465.000.
Penguatan terjadi setelah ketiganya kompak mengalami koreksi pada hari perdagangan sebelumnya, di mana IHSG terperosok hingga 1,69% di level 6.277,04, dan nilai tukar rupiah berada di angka Rp17.884 per dolar AS.
Di tengah volatilitas pasar keuangan tersebut, pelaku pasar umumnya mencermati sejumlah faktor eksternal dan internal yang terjadi pada pekan ini. Selain kenaikan suku bunga the Fed dan data ekonomi AS, pelaku pasar menantikan keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Rabu ini (23/9/2026). Apakah BI akan menaikkan suku bunga acuan (BI rate) mengikuti apa yang dilakukan the Fed atau mempertahankan suku bunga tetap di level 5,75%?
Berkaca dari keputusan menaikkan BI rate di pertengahan tahun ini pada18 Juni 2026 menjadi 5,75 %, keputusan diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, dan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%.
Di samping itu, BI juga menjalankan kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran yang mengarah pada pertumbuhan (“pro-growth"). Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Itu artinya, dalam kondisi tingkat inflasi dan perekonomian yang masih terjaga, keputusan untuk menaikkan suku bunga akan menjadi opsi yang tidak diambil begitu saja. Terlebih dengan adanya upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor riil.
Langkah untuk menaikkan suku bunga juga bukan hal yang mudah saat ini, dan tidak sesederhana yang dibayangkan. Kenaikan suku bunga akan berdampak pada biaya yang semakin mahal dan kinerja sektor riil yang semakin berat, baik dalam hal beban bunga, biaya operasional, dan kebutuhan ekspansi.
Jadi, untuk Gen Z yang sedang harap-harap cemas, optimisme terhadap kondisi perekonomian dan pasar keuangan tetap harus kita gaungkan, ya guys... and stay kalcer!!