Kalcernomics Versi penuh
the big picture

Transaksi Kripto Indonesia Turun, Pasar Kripto Domestik Masih Potensial?

Oleh Adi Wiratno 03 Sep 2026 08:59 3 menit baca

Melemahnya harga Bitcoin (BTC) yang terjadi sejak awal tahun ini membuat aktivitas transaksi perdagangan aset digital di tanah air melempem. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, nilai transaksi aset kripto pada Juli kemarin hanya mencapai Rp20,52 triliun, merefleksikan penurunan 28,2% ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar Rp28,58 triliun.

 

Hal yang sama juga terjadi pada pasar perdagangan derivatif. Nilai perdagangan aset kripto di pasar berjangka turun menjadi Rp3,41 triliun dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp4,19 triliun. Lemahnya harga sang jawara kripto dan bergesernya perilaku investor di tengah gejolak ekonomi makro saat ini, dituding menjadi biang keladi dalam capaian tersebut.

 

Namun menariknya, jumlah konsumen tercatat justru terus bertambah. Pada Juli kemarin, angkanya semakin mendekati 23 juta akun, atau tepatnya sekitar 22,93 juta. Naik dari posisi Juni yang sebanyak 22,69 juta akun.

 

Merespons hal itu, Chief Executive Officer (CEO) sekaligus founder salah satu crypto exchange di Indonesia, Floq, Yudhono Rawis mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap pasar kripto masih terjaga, meski kemampuan dan pola transaksi investor mulai berubah di tengah tekanan ekonomi.

 

“Basis konsumen masih bertambah meskipun nilai transaksinya mengalami penurunan. Ini menunjukkan masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan kripto, tetapi mulai bertransaksi dengan nominal yang lebih kecil dan lebih berhati-hati,”jelasnya melalui keterangan resmi.

 

Lebih jauh menurut Yudho, perbedaan arah antara jumlah konsumen dan nilai transaksi menjadi indikasi bahwa penurunan aktivitas pasar saat ini lebih bersifat siklikal, bukan mencerminkan hilangnya minat terhadap aset kripto secara struktural.

 

Tekanan di Masyarakat

 

Perubahan perilaku investor tersebut tidak terlepas dari kondisi ekonomi masyarakat. Jumlah kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah tercatat bertambah dari 137,5 juta jiwa pada 2024 menjadi 142 juta jiwa pada 2025 dan kini mencakup sekitar 50,4% penduduk Indonesia.

 

Di sisi lain, jumlah masyarakat dalam kelompok rentan juga meningkat dari 67,7 juta menjadi 67,9 juta orang.

 

Dalam kacamata Yudho, bertambahnya kelompok calon kelas menengah menggambarkan tekanan t

erhadap daya beli dan ketahanan finansial rumah tangga. Dalam kondisi tersebut, alokasi dana

untuk instrumen investasi dengan volatilitas tinggi seperti aset kripto cenderung menjadi lebih

terbatas.

 

“Ketika kondisi finansial rumah tangga tertekan, wajar jika masyarakat menjadi lebih konservatif.

Yang berubah bukan selalu minatnya terhadap investasi, tetapi besarnya dana yang mereka berani alokasikan dan bagaimana mereka memilih instrumen,” tuturnya.

 

Kondisi ini juga berjalan beriringan dengan volatilitas pasar kripto global. Kapitalisasi pasar kripto dunia sempat turun sekitar 45% dari level US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$2,3 triliun pada Maret 2026.

 

Tokenized Stock dan Derivatif Jadi Peluang

 

Dari banyak produk kripto yang saat ini beredar di dunia, salah satu peluang yang dinilai relevan adalah pengembangan tokenized stocks, terutama untuk menjangkau investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap saham perusahaan global dengan karakter aset yang berbeda dibandingkan kripto murni.

Volume perdagangan tokenized stocks global tercatat melonjak dari US$831 juta pada Juli 2025

menjadi sekitar US$54 miliar pada Juni 2026.

 

Selain itu, produk derivatif juga dinilai memiliki ruang pertumbuhan besar di Indonesia. Secara global, volume perdagangan derivatif kripto pada kuartal II/2026 mencapai sekitar US$12,7 triliun, jauh lebih besar dibandingkan pasar spot yang mencapai US$1,95 triliun.

 

Yudhono menilai pengembangan produk perlu dibarengi dengan edukasi, terutama ketika basis investor semakin luas dan berasal dari kelompok masyarakat dengan tingkat ketahanan finansial yang berbeda-beda.

 

“Pertumbuhan jumlah investor jangan hanya berhenti pada angka partisipasi. Industri juga perlu memastikan masyarakat memahami risiko dan tidak mengambil keputusan investasi hanya karena mengejar potensi keuntungan jangka pendek,” tuturnya.

 

Ia menegaskan bahwa pasar Indonesia masih sangat prospektif dan Industri perlu beradaptasi dari sekadar mengejar volume besar menjadi membangun basis investor yang lebih luas, teredukasi, dan berkelanjutan.

 

 

Topik terkait
aset kripto adopsi kripto transaksi kripto bursa kripto FLOQ Indonesia