Surplus 72 Bulan Pecah Telur, Mirae Asset Spill Saham yang Tetap Setrong!

Surplus 72 Bulan Pecah Telur, Mirae Asset Spill Saham yang Tetap Setrong!
Bacakan Artikel

Alarm dari Defisit Neraca Perdagangan

Di sisi lain, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menyebut fokus pasar sekarang mulai bergeser ke kemampuan Indonesia dalam menjaga ketahanan eksternal. Pasalnya, neraca perdagangan Indonesia per Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar. Angka ini otomatis memutus rekor surplus yang sudah bertahan selama 72 bulan berturut-turut, sekaligus menjadi defisit bulanan terdalam sejak April 2019.

Menurut Novani, jebolnya neraca dagang ini dipicu oleh lesunya perdagangan global, normalisasi harga komoditas, dan tingginya angka impor migas. Kondisi ini kian menantang karena terjadi bersamaan dengan defisit transaksi berjalan dan tren penurunan cadangan devisa.

"Berakhirnya surplus 72 bulan ini jadi sinyal kalau bantalan eksternal kita mulai menipis. Efeknya, kita jadi makin bergantung sama aliran modal asing (portfolio inflow) untuk menjaga stabilitas eksternal," jelas Novani.

Ke depan, pergerakan Rupiah dan sentimen pasar akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, kebutuhan impor energi, serta efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Selama tekanan terhadap Rupiah belum mereda dan transaksi berjalan masih defisit, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan terus mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas moneter.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2