Pasar Fluktuatif, Investasi Emas Lebih Menjanjikan?
Kalcernomics.com - Harga emas masih mengalami penurunan pada pekan ini. Berdasarkan data harga logam mulia Antam, Selasa (22/9/2026), harga emas Antam tercatat di angka Rp 2.627.000, dengan harga buyback emas per gram sebesar Rp 2.462.000.
Sementara dalam sebulan terakhir harganya bergerak di angka Rp 2.592.000 - Rp 2.768.000 per gram. Harga emas yang bergerak fluktuatif ini memantik pertanyaan, apakah investasi emas benar-benar menjanjikan?
Karena seperti yang kita ketahui, investasi bukan sekadar “menanam” uang, tapi bagaimana mengelola keuangan agar dapat memberikan imbal hasil yang menguntungkan melalui instrumen investasi yang dipilih.
Dari data historis, tren harga emas dalam jangka panjang memang menunjukkan kenaikan yang signifikan. World Gold Council mencatat, sepanjang 2025, harga emas global mencatat lebih dari 50 rekor tertinggi sepanjang masa dan menghasilkan return lebih dari 60% hingga akhir November.
Di tahun 2025, harga emas LBMA juga mencatat 53 kali rekor tertinggi baru. Namun, kinerja tersebut tidak berarti harga emas akan terus naik dengan tingkat yang sama.
World Gold Council dalam Mid-Year Outlook 2026 mencatat, emas sempat menembus US$5.500 per troy ounce secara intraday pada Januari 2026, sebelum terkoreksi hingga mendekati US$4.000 pada akhir Juni. Pada paruh pertama 2026, volatilitas emas bahkan sempat berada di atas 50%.
Fluktuasi harga emas tidak lepas dari berbagai faktor, seperti suku bunga, nilai tukar dolar AS, inflasi, kondisi ekonomi, permintaan investasi, hingga risiko geopolitik.
Suku bunga menjadi salah satu faktor penting karena emas tidak menghasilkan yield. Ketika suku bunga dan imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, opportunity cost memegang emas menjadi lebih tinggi. Meski demikian, kondisi 2026 menunjukkan hubungan tersebut tidak selalu sederhana.
Pada 16 September 2026, The Federal Reserve menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%. Kebijakan tersebut dilakukan ketika inflasi masih dinilai tinggi.
Tapi, di sisi lain, kenaikan imbal hasil dan penguatan dolar yang terjadi hingga 18 September tidak sepenuhnya menghentikan penguatan emas. Hal tersebut menunjukkan, faktor struktural seperti arus ETF, permintaan investor dan pembelian bank sentral juga semakin penting dalam menentukan harga emas.
World Gold Council memproyeksikan, harga emas pada paruh kedua 2026 masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga, kondisi ekonomi, pergerakan dolar AS, serta risiko geopolitik yang masih menghantui pasar keuangan.
Dengan kata lain, emas memang memiliki rekam jejak kenaikan jangka panjang, tetapi investor tetap perlu menghadapi risiko fluktuasi harga dalam jangka pendek. Jadi, jika pilihannya adalah untuk mengejar keuntungan, emas dapat menjadi pilihan strategi diversifikasi investasi saat ini, terutama bagi investor yang memiliki tujuan jangka menengah hingga panjang dan ingin memiliki aset pelindung nilai.