Investor Masih Wait and See, IHSG Tertekan Risiko Domestik dan Eksternal
Kalcernomics.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai investor masih cenderung berhati-hati menghadapi tekanan pasar domestik dan ketidakpastian eksternal. Kondisi tersebut tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,5% ke level 6.405.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor berpotensi mengambil sikap wait and see menjelang aksi demonstrasi di DPR. Menurutnya, dampak aksi tersebut terhadap pasar akan bergantung pada skala dan perkembangannya.
“IHSG masih menghadapi risiko dari sisi domestik dan eksternal. Kami melihat Rupiah dan foreign flow sebagai indikator utama untuk menilai apakah risiko dari agenda domestik mulai berdampak lebih luas terhadap pasar,” ujar Rully.
Ia menilai dampak terhadap pasar saham cenderung bersifat sementara apabila demonstrasi berlangsung secara tertib. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan risiko domestik, pergerakan nilai tukar Rupiah, serta arus dana asing.
Dari eksternal, tingginya indikator PCE Amerika Serikat menjaga peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka. Kondisi tersebut turut membuat imbal hasil US Treasury bertahan pada level tinggi dan menjadi salah satu faktor yang membatasi sentimen pasar.
Di pasar domestik, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penekan IHSG. Sebaliknya, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) kembali menopang indeks seiring harga emas yang bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga bulan.
Kebijakan BI Jadi Perhatian
Di tengah tekanan pasar, arah kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor penting bagi prospek pasar saham. Presentasi fit and proper test Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI memberikan indikasi awal mengenai arah kebijakan yang lebih berorientasi pada pertumbuhan atau pro-growth.
Namun, volatilitas Rupiah dan ketidakpastian eksternal dinilai masih membatasi ruang penurunan suku bunga.
Rully menilai bauran kebijakan yang lebih mendukung pertumbuhan berpotensi memberikan dampak positif bagi pasar saham, terutama sektor perbankan dan sektor domestik yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Merger MTEL-TBIG Jadi Katalis
Di tengah pasar yang masih selektif, peluang investasi sektoral tetap terbuka. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja menyoroti kembali wacana merger PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Jika terealisasi, entitas hasil penggabungan diperkirakan memiliki sekitar 65.800 menara dan 106.100 tenant dengan tenancy ratio sekitar 1,61 kali.
Dari sisi operasional, kedua perusahaan dinilai memiliki profil yang relatif saling melengkapi. MTEL lebih terkonsentrasi di luar Jawa, sedangkan TBIG memiliki eksposur lebih besar di Pulau Jawa. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi potensi tumpang tindih aset.
Daniel menilai konsolidasi berpotensi menjadi katalis pertumbuhan bagi industri menara telekomunikasi setelah permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, konsolidasi berpotensi memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam negosiasi perpanjangan kontrak sewa serta membuka peluang pertumbuhan dari siklus belanja modal 5G operator telekomunikasi.
Mirae Asset Sekuritas mempertahankan pandangan Neutral terhadap sektor infrastruktur telekomunikasi. Untuk saham MTEL, Mirae memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp670 per saham, sementara TBIG memperoleh rekomendasi Trading Buy dengan target harga Rp1.700 per saham.
Sementara itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dinilai berpotensi memperoleh dampak positif dari konsolidasi industri tersebut tanpa menanggung risiko integrasi secara langsung.