Kalcernomics Versi penuh
Makro

Gubernur BI: Rupiah Hadapi Tantangan Berat

Oleh Lia 27 Oct 2026 15:36 2 menit baca

Kalcernomics.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum beranjak dari Rp18.000an per dolar. Bahkan data kurs transaksi Bank Indonesia (BI) per 27 Oktober 2026, kurs jual dolar AS berada di posisi Rp18.206,58, dan kurs beli di posisi Rp18.025,42 per dolar. 

Menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, pergerakan rupiah saat ini menghadapi tantangan berat akibat fenomena suku bunga tinggi global yang bertahan lebih lama (higher for longer).

Kondisi tersebut, antara lain dipicu oleh tingginya inflasi AS, dan treasury yield tenor 10 tahun yang mencatat rekor di atas 5%, di tengah menguatnya dolar AS. Ditambah kenaikan harga minyak yang ditengarai ketegangan politik global dan konflik Timur Tengah. 

"Kondisi global seperti inflasi tinggi, bond yield yang tinggi, perlambatan ekonomi, hingga naiknya harga minyak membuat suku bunga bertahan tinggi. Situasi ini berdampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia, karena aliran modal masuk (inflow) dari negara maju menjadi sangat terbatas," jelas Destry dikutip dari metrotvnews, Selasa (27/10/2026).

Terbatasnya aliran modal asing, lanjut Destry, secara otomatis menekan pasokan dolar AS di dalam negeri. Pada saat yang sama, permintaan (demand) terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut tetap tinggi, terutama untuk membiayai kebutuhan impor energi seiring kenaikan harga minyak mentah dunia.

Menghadapi ketimpangan pasokan dan permintaan valas, Bank Indonesia berupaya menjaga pergerakan rupiah agar tetap selaras dengan rata-rata mata uang di negara berkembang.

"Menjaga stabilitas nilai tukar tidak berarti memaksakan rupiah harus selalu menguat, melainkan menjaganya tetap berada dalam rentang pergerakan yang wajar sesuai fundamental ekonomi," ucapnya.

Topik terkait
Nilai tukar rupiah Kurs rupiah Gubernur Bank Indonesia Bank Indonesia BI