Saham Naik di Pekan Ini Setelah Data Tenaga Kerja AS Melemah dan Dolar Turun
Pasar saham global menguat pada akhir pekan setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lemah menekan dolar dan meredakan kekhawatiran soal kenaikan suku bunga The Fed. Wall Street, bursa Eropa, dan saham teknologi sama-sama mencatat penguatan, sementara harga minyak bergerak naik di tengah ketidakpastian soal konflik AS-Iran.
Pasar keuangan global menutup pekan ini dengan nada optimistis setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari perkiraan memicu pelemahan dolar dan mendorong penguatan bursa saham. Kondisi ini membuat saham naik di pekan ini, terutama di Wall Street dan sejumlah bursa utama Eropa, di tengah berkurangnya kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan segera memperketat kebijakan moneternya.
Nilai tukar dolar tercatat turun tajam pada perdagangan Jumat, 7 Agustus, setelah laporan menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 lapangan kerja pada Juli. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan 80.000 hingga 100.000 pekerjaan baru. Pelemahan data ini dinilai sebagai sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum, sehingga menekan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Di pasar saham, respons investor langsung terlihat. Indeks S&P 500 di Wall Street naik 0,6 persen dan ditutup pada rekor tertinggi baru. Nasdaq yang banyak diisi saham teknologi menguat lebih dari 1 persen, sementara Dow Jones juga berakhir di zona hijau. Kinerja ini memperpanjang reli yang sudah berlangsung dalam beberapa sesi terakhir, dengan saham-saham teknologi menjadi penggerak utama.
Penguatan pasar saham tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Hampir seluruh bursa utama Eropa juga ditutup menguat. Bursa di Paris, Frankfurt, dan Milan bahkan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sentimen positif di kawasan tersebut ikut terbantu oleh ekspektasi bahwa tekanan dari kebijakan moneter ketat AS bisa mereda apabila The Fed menunda langkah lanjutan.
Data tenaga kerja AS ubah ekspektasi pasar
Ekonom Capital Economics, Thomas Ryan, menilai revisi turun pada data ketenagakerjaan AS untuk Mei dan Juni, ditambah laporan Juli yang lemah, berpotensi memicu kekhawatiran baru di kalangan pejabat The Fed mengenai kondisi pasar tenaga kerja. Menurut dia, situasi ini dapat membuat bank sentral AS kurang bersemangat untuk berkomitmen pada pengetatan kebijakan dalam waktu dekat.
Pandangan serupa disampaikan Art Hogan dari B. Riley Wealth Management. Ia menilai data terbaru tersebut kemungkinan besar akan membuat Federal Reserve menunda pertimbangan untuk menaikkan suku bunga. “Hal ini tentu mengubah dinamika pasar dalam memprediksi kebijakan moneter,” ujarnya kepada AFP.
Hogan juga menyoroti adanya jeda dalam kenaikan imbal hasil obligasi Treasury. Menurutnya, kondisi itu ikut mengurangi hambatan bagi pasar saham. Dengan kata lain, data ekonomi yang lebih lemah justru memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham.
Saham teknologi masih jadi motor penguatan
Reli pasar saham selama beberapa sesi terakhir juga ditopang oleh saham-saham teknologi. Kinerja laba perusahaan yang melampaui perkiraan membantu meredakan kekhawatiran investor mengenai kapan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan atau AI akan mulai menunjukkan hasil. Sentimen ini membuat sektor teknologi tetap menjadi penopang utama penguatan indeks.
Di tengah kondisi tersebut, investor tampaknya lebih fokus pada prospek pelonggaran tekanan suku bunga dibandingkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi. Kombinasi ini membuat pasar saham bergerak naik, meski data tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang cukup jelas.
Minyak naik di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran
Selain perkembangan di pasar saham dan valuta asing, harga minyak juga menjadi perhatian pada akhir pekan. Sebelumnya, muncul harapan akan tercapainya kesepakatan segera antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz. Harapan itu sempat menumbuhkan optimisme bahwa pasokan minyak, gas, dan komoditas penting lainnya bisa kembali mengalir lebih lancar setelah konflik berlangsung lebih dari lima bulan.
Namun, harga minyak justru bergerak naik menjelang penutupan pekan karena belum ada konfirmasi resmi mengenai kesepakatan tersebut. Kondisi ini diperburuk oleh laporan bahwa Iran berencana memblokir kapal-kapal AS dan Israel melintasi jalur perairan strategis itu. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.
Para analis menilai harga minyak kemungkinan belum akan kembali ke level sebelum konflik AS-Iran, ketika kontrak berjangka utama diperdagangkan di bawah US$70 per barel, tanpa adanya kemajuan yang nyata. Hal ini terjadi di tengah pernyataan pejabat kedua pihak yang saling bertentangan dalam beberapa hari terakhir, sehingga pasar belum memiliki kejelasan arah.
Ringkasan pergerakan pasar
- Dolar AS melemah tajam setelah data ketenagakerjaan Juli menunjukkan hilangnya 23.000 pekerjaan.
- S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru, Nasdaq naik lebih dari 1 persen, dan Dow Jones ditutup menguat.
- Bursa Paris, Frankfurt, dan Milan juga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun setelah data tenaga kerja yang lemah.
- Harga minyak naik karena belum ada kepastian soal kesepakatan AS-Iran dan blokade Selat Hormuz.
Dengan kombinasi data ekonomi AS yang mengecewakan, pelemahan dolar, dan harapan bahwa The Fed akan lebih berhati-hati, pasar saham global menutup pekan ini dengan penguatan yang cukup solid. Meski demikian, arah pasar ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi berikutnya, kebijakan moneter AS, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Sumber: CNA/SL