Rupiah Tembus Rp18.000. Ini Langkah Bank Indonesia
Kalcernomics.com - Menyikapi nilai tukar rupiah yang kembali melemah hari ini hingga menyentuh angka Rp18.000, Selasa (29/9/2026), Bank Indonesia (BI) mengungkapkan telah melakukan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Selain itu, menurut dia, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang pro-market, dan diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas.
BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.
Intervensi terhadap rupiah akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui sejumlah instrumen. Termasuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” jelasnya.
Meski rupiah tertekan, Erwin mengatakan pergerakannya secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (qtd) tercatat sebesar 0,67 persen.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Posisi ini dinilai setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Sebagai informasi, kurs rupiah pada siang ini melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp18.000 dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.970.