Kalcernomics Versi penuh
Pasar Modal

IHSG Diproyeksi Masih Berat Melaju Positif Pekan Ini. Ada Apa?

Oleh Lia 01 Oct 2026 13:03 2 menit baca

Kalcernomics.com - Membuka sesi perdagangan hari ini, Kamis (1/10/2026), Indeks Harga Saham melemah tipis 8,25 poin (0,14%) ke posisi 6.062,89, dan terpantau masih bergerak melemah di level 6.022,05 pada pukul 11.59. Dikutip dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/10/2026).

Masih tingginya sentimen global, investor dinilai menunjukkan sikap wait and see untuk melakukan transaksi. Baik yang terkait data ekonomi Amerika Serikat (AS) terbaru dan manuver politiknya, serta perkembangan ekonomi di dalam negeri sehingga menahan laju IHSG untuk kembali rally. 

Beberapa data yang menjadi indikator penting tersebut, antara lain: Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang naik perlahan ke angka 0,3% secara bulanan (mtm) dan 3,4% secara tahunan (yoy) di bulan Agustus 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar yang berada di 0,4% (mtm) dan 3,7% (yoy).

Selain itu, PCE Inti AS juga mencatatkan kenaikan 0,2% (mtm) dan 3% (yoy) pada Agustus 2026, yang juga masih di bawah konsensus awal.

Lebih lanjut, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS kuartal II-2026 diproyeksi mengalami kenaikan 2,2%. Hal tersebut juga disebutkan dalam laporan ADP sektor swasta yang menunjukkan tambahan 90.000 lapangan kerja baru selama September 2026.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati perkembangan data ekonomi terbaru mengenai inflasi yang diprediksi akan mengalami kenaikan ke level 3% (secara year on year/yoy) dan beberapa data ekonomi terkait neraca perdagangan yang diprediksi surplus menjadi 0,6 miliar dolar AS pada Agustus 2026.

Pertumbuhan ekspor-impor, di mana ekspor diprediksi akan lebih lambat 4,2% (yoy), namun angka impor justru melesat tajam dengan kenaikan 31,7% (yoy). Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia juga diproyeksi kembali ke zona ekspansif, naik dari 49,8% menjadi 50,3% pada September 2026.

Tak hanya itu, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada APBN 2027 yang baru diresmikan pemerintah dan DPR. Salah satunya, anggaran subsidi energi senilai Rp261,5 triliun yang turun tipis dari rancangan sebelumnya.

Diproyeksikan, jika harga minyak mentah global terus mengalami kenaikan, bahkan hingga tahun depan, akan berdampak pada laju inflasi domestik bergerak ke level tinggi dan secara langsung mempengaruhi kinerja emiten consumer serta energi.

Topik terkait
Bursa Efek Indonesia IHSG Bursa Efek Proyeksi IHSG Inflasi Indonesia Data Ekonomi AS Kinerja saham Investor