Kalcernomics Versi penuh
Makro

Bank Indonesia Ungkap Penyebab Melemahnya Rupiah

Oleh Lia 29 Sep 2026 15:46 2 menit baca

Kalcernomics.com - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut. Pada perdagangan siang ini, Selasa (29/9/2026), rupiah melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp18.000 dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.970.

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai karena masih tingginya ketidakpastian global, seiring konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah antara lain dipengaruhi adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz, sehingga mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter yang akan dilakukan oleh AS lebih lanjut.

“Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun ke level 5,23 persen, yang menjadi level tertinggi sejak 2007.” jelas Erwin dalam keterangannya hari ini.

Dari sisi internal, lanjut Erwin, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III 2026. Arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi juga ikut menekan rupiah.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujarnya.

Bank Indonesia, menurut dia, akan terus berupaya memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik, dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.

Topik terkait
Nilai tukar rupiah Kurs rupiah Bank Indonesia Direktur Bank Indonesia Penyebab rupiah melemah Rupiah BI